Pusing Hadapi Gerombolan Kera, Akhirnya Petani Sagaranten Gunakan Bedil Spirtus

oleh -
Lahan tanaman padi mengalami kerusakan setelah dijarah oleh rombongan kera yang datang dari arah Gunung Kamunding di Desa Sagaranten, Kecamatan Sagaranten, Kabupaten Sukabumi.

Wartawan Suryana, S.E.

Serangan gerombolan kera membuat petani di Sagaranten, Kabupaten Sukabumi  pusing tujuh keliling. Setiap sore kelompok kera itu menjarah sawah dan kebun yang terletak di kaki gunung. Rombongan kera itu berpesta pora sambil memakan serta merusak tanaman padi dan palawija. Kera-kera tersebut selalu meninggalkan jejak berupa tanaman yang rusak akibat diinjak-injak dan dicabuti.

banner 970x90

Para petani sudah memakai berbagai cara untuk mengusir kera yang merusak lahan pertanian milik mereka. Mulai cara yang halus dengan menakut-nakuti oleh suara sampai cara yang paling kasar yaitu menabar racun. Namun cara-cara itu tidak ada yang mempan dan efektif untuk mengusir kera dari lahan pertanian, malahan kelompok kera semakin banyak. 

“Akhirnya kami mendapat informasi dari media sosial, di Jawa Tengah, petani mengusir kera dengan bebedilan berbahan ledak spirtus,” kata Haris, seorang petani yang tinggal di Kampung Mekarjaya RT 10 RW 04 Desa Sagaranten, Kecamatan Sagaranten, Kabupaten Sukabumi kepada wartawan, Selasa (28/12/2021).

Modal dan cara membuat bedil spirtus relatif murah dan mudah. Petani cukup menyediakan sepotong pipa dari paralon, magnet pematik api dari geretan, dan beberapa komponen dari kaleng dan karet. Dengan menyulut spirtus di ruang pembakaran, bedil tersebut dapat menghasilkan bunyi keras seperti petasan besar.

“Sudah hampir tujuh hari saya menggunakan bedil spirtus, hasilnya sangat efektif. Kera-kera tidak berani lagi datang ke sawah dan ladang milik saya. Bedil itu saya nyalakan ketika kera-kera sedang merusak tanaman. Begitu meledak, kera-kera berlarian pontang panting. Sementara ini mereka tidak berani kembali,” ujar Haris.

Para petani lain yang juga menggunakan keampuhan bedil spirtus untuk mengusir kera seperti Sujatma, Dimik, Jaya, dan Empar yang semuanya warga Kampung Cibogo, Desa Sagaranten. Mereka pernah mengalami sawah dan ladangnya diserbu rombongan kera dalam jumlah banyak antara 20 hingga 50 ekor, bahkan pernah ratusan ekor setiap pagi dan sore.  

“Kera-kera itu merusak tanaman padi yang umurnya baru satu bulan. Tanama padi menjadi rusak karena dipakai lahan bermain-main dan makan-makan oleh kera,” kata Sujatma.

Sujatma, salah seorang petani asal Sagaranten mengusir kera perusak tanaman dengan bedil spirtus.

Sujatma dan para petani lain telah melakukan penelusuran untuk mengetahui asal usul kelompok monyet tersebut. Ternyata monyet-monyet itu datang dari arah Gunung Kamunding. Setelah berpesta, kelompok kera itu balik kanan ke gunung tersebut. 

Gerombolan kera juga menyerang Kampung Ciseureuh dan Kampung Cinangir Desa Pasanggarahan, Kecamatan Sagaranten. Di dua kampung ini, warga yang mengalami kerugian akibat serangan kera antara lain Dasep (35) dan Dadi (65). Kelompok kera yang menyerang lahan pertanian milik Dasep dan Dadi datang dari arah Leuweung Datar di Desa Cipamingkis, Kecamatan Cidolog.

“Sekali datang jumlahnya kira-kira 50 ekor kera, ukuran tubuhnya bermacam-macam, terbesar seukuran domba dewasa. Mungkin rajanya,” kata Dasep. (*)

Print Friendly, PDF & Email