Warga Cidadap Protes, BPNT di Elektronik Warong Diduga Tidak Tepat Jumlah

oleh -
Bahan pangan yang diberikan kepada KPM pada program BPNT di Kecamatan Cidadap, Kabupaten Sukabumi.

Wartawan Herman Popay

Dugaan pelanggaran aturan distribusi program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) menyeruak di Kecamatan Cidadap, Kabupaten Sukabumi. Praktik pelanggaran itu diduga dilakukan oleh elektronik warung gotong royong (e-warong) dengan mengurangi takaran komoditi sehingga tidak tepat jumlah.

banner 970x90

Padahal berdasarkan Permensos Nomor 20 Tahun 2019 tentang BNPT Pasal 2 ayat 1 poin C disebutkan bahwa salah satu tujuan BPNT adalah memberikan bahan pangan dengan tepat sasaran, tepat waktu, tepat jumlah, tepat kualitas, tepat harga dan tepat administrasi.

“Semua komoditas yang diberikan agen e-warong baik telur, daging, sayur dan bawang, ternyata jumlahnya kurang setelah saya timbang lagi,” ungkap seorang keluarga penerima manfaat (KPM) berinisial JN.

Tak hanya itu, JN juga menuturkan kartu keluarga sejahtera (KKS) yang menjadi instrumen pembayaran yang digunakan sebagai media penyaluran bantuan juga tak dikembalikan alias dikuasai oleh agen e-warong.

Penguasaan KKS milik KPM ini menimbulkan kecurigaan jika agen tersebut akan menggunakan kartu untuk menarik dana terlebih dulu baru kemudian uang tersebut dibelanjakan berbagai komoditi untuk disalurkan lagi kepada KPM. “Kalau polanya seperti itu, semua orang juga bisa jadi agen e-warong,” jelas JN.

Ia menambahkan fakta jika agen e-warong yang melayani pencairan BPNT tiga desa yaitu Cidadap,  Hegarmulya dan Tenjolaut itu pun ternyata hanya buka sebulan sekali yakni saat pembagian BPNT dilakukan.

Padahal sesuai aturan, e-warong yang ditunjuk harus merupakan usaha mikro, kecil, dan koperasi, pasar tradisional, toko kelontong, warung desa, rumah pangan kita, agen bank, atau usaha eceran lainnya. Artinya  aktivitas e-warong  berlangsung setiap hari.

“Saya berharap aparat penegak hukum menindak-lanjuti oknum e-warong tersebut. Jika hal seperti ini dibiarkan maka upaya penguatan sosial ekonomi masyarakat selama pandemi Covid-19 akan terganggu,” kata JN.

Saat dikonfirmasi mengenai dugaan adanya pengurangan jumlah komoditi, oknum e-warong berinisial YM  mengkaim jika e-warongnya melayani kebutuhan KPM sesuai jumlah yang semestinya.

“Semua dana KPM sebesar Rp 200 ribu perbulan itu selalu ditukarkan sesuai jumlah kebutuhan. Jika pun ada sisa semisal Rp 5 ribu, pasti kami kembalikan ke KPM,” terang YM.

Bantuan Pangan Non Tunai (BNPT) sendiri adalah bantuan sosial pangan dalam bentuk non tunai dari pemerintah yang diberikan kepada KPM setiap bulannya melalui mekanisme akun elektronik yang digunakan hanya untuk membeli bahan pangan di pedagang bahan pangan/e-warong yang bekerja sama dengan bank. Besaran bantuan sebesar Rp 200 ribu perbulan. Biasanya pemerintah mencairkan bantuan ini setiap 3 bulan sekali. (*)

Print Friendly, PDF & Email