Konsultan Pengawas Soroti Material pada Pembangunan Gedung Limbah B3 RS Sagaranten

oleh -
Pembangunan Gedung Limbah B3 RSUD Sagaranten terus berproses menuju penyelesaian.

Wartawan M. Hamjah

Konsultan pengawas dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sukabumi, Soni menyoroti material yang digunakan pada pembangunan Gedung Limbah B3 (Bahan Beracun dan Berbahaya) di RSUD Sagaranten. Dia kurang merasa sreg dengan pasir yang digunakan oleh pelaksana dalam pembangunan gedung penunjang operasional rumah sakit tersebut.

banner 970x90

“Sebagai konsultan pengawas, saya harus intens mengawasi dan mengawal proses pembangunan sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Saya menemukan penggunaan pasir yang diduga berkualitas rendah untuk pembangunan gedung Limbah B3 Rumah Sakit Saganranten,” kata Soni ketika ditemui di lokasi pembangunan, Rabu (17/11/2021).   

Dia khawatir pasir berkualitas seperti itu daya rekat adukannya kurang kuat menempel pada struktur bangunan. Soni pun sudah beberapa kali melontarkan teguran kepada para pekerja agar mengganti pasir yang diduga mengandung sedikit lumpur itu.

“Dengan pasir seperti itu kami khawatir akan terjadi penurunan daya rekat sehingga bangunan tidak akan tahan lama,” ujar dia.

Pembangunan Gedung Limbah B3 RSUD Sagaranten dibangun dengan anggaran sebesar Rp199,5 juta dari APBD Kabupaten Sukabumi tahun 2021. Pelaksananya CV MJN dengan penanggung jawab kegiatan Dinkes Kabupaten Sukabumi.

Menurut Soni, para pekerja tampaknya tidak tahu-menahu urusan material bangunan. Mereka hanya menerapkan bahan matrial yang ada di lokasi pembangunan. 

Untuk menyampaikan hal itu kepada pelaksana atau mandor, Soni mengalami kesulitan karena sulit bertemu dengan mereka. Dia pun  sukar mengarahkan pekerja agar mengganti material yang kurang memenuhi spek.

“Saya kesulitan untuk bisa komunikasi langsung dengan penaggung jawab pelaksana pembangunan. Sudah berulang kali meminta pekerja agar penanggung jawab atau mandornya bisa menghubungi saya atau ketemu langsung di sini. Tapi belum bertemu juga,” ujar Soni.

Sementara mandor pelaksana bangunan Ute melalui telepon genggam mengatakan siap bertanggung  jawab atas hasil pekerjaan di lapangan. Adapun bahan material itu bukan dia penyedianya. 

“Kalau bentuk bangunan tidak sesuai dengan gambar dari perencana,  itu baru kesalahan saya,” kata Ute.

Berdasarkan pantauan di lapangan, bangunan gedung Limbah B3 RSUD Sagaranten yang masih berproses pembangunannya berdiri dengan kokoh. Strukturnya juga kuat, ketika diguyur hujan dan angin kencang, dia tidak goyah.

Sampai kini, pembangunan gedung tersebut sudah menyelesaikan pembuatan dinding. Sisanya tinggal pembuatan atap, lantai, pemasangan pintu dan jendela, serta finishing. (*)

Print Friendly, PDF & Email