Tinggal di Rumah Butut, Ade Ladig Tetap Tegar Sambil Mengharapkan Bantuan dari Dermawan

oleh -
Kondisi rumah Ade Ladig di Kampung Rawabening, Desa/Kecamatan Cidadap, Kabupaten Sukabumi tidak layak sebagai tempat tinggal.

Wartawan Hamjah

Hidup susah dan berada di bawah garis kemiskinan merupakan keseharian Ade Suryono (53) alias Ade Ladig warga Kampung Rawabening, Desa Cidadap, Kecamatan Cidadap, Kabupaten Sukabumi. Hidupnya susah dan merana, makan apa adanya dari hasil usaha serta tinggal di rumah butut berukuran mini 3 x 2 meterpersegi.

Bersama istrinya Sumarni, Ladig menetap di rumah yang dari tampilan fisiknya tidak lebih baik dibandingkan kandang kambing. Dinding rumahnya dari bilik bambu bekas dan material lainnya dari limbah kayu. Rumahnya itu berbentuk persis persegi panjang, tanpa riasan dan aksesoris. Di dalamnya tidak ada penyekat antara ruang tidur dan dapur.

Namanya bahan bekas, tentu kondisinya sudah di bawah 50 persen. Walaupun rumah tersebut baru berumur sebulan, sebagian materialnya telah melepuh keropos.

“Ini sebenarnya rumah darurat yang dibangun dengan cepat dan bahan apa adanya,” kata Ladig kepada wartawan, Rabu (13/10/2021).

Rumah daruratnya itu dibangun setelah rumah permanennya ambruk karena sudah lapuk satu bulan yang lalu. Dalam pembangunan rumah darurat, dia mendapat bantuan dari warga yang bekerja secara gotong royong.  

Bagian dalam rumah Ade Ladig, kamar tidur dan dapur menyatu tanpa penyekat.

Ladig  bersama istrinya hidup jauh dari kondisi mewah, untuk sederhana pun belum tercapai. Pasangan Ladig-Sumarni hidup ada apanya. Dia berusaha untuk bisa memenuhi kebutuhan hidupnya yang serba kekurangan dengan kondisi rumah yang teramat memprihatinkan.

Sumarni istri ladig mengaku tidak bisa tinggal di rumah yang layak karena keterbatasan ekonomi. “Jangankan untuk membangun rumah, makan sehari-hari pun susah,” kata Sumarni.

Sebagai istri, Sumarni menyadari keadaan yang dihadapinya merupakan ujian yang harus dijalani. Harapan dia dan suaminya, ke depan ada dermawan yang mau membatu untuk meringankan beban hidupnya. Bahkan jika Allah SWT berkenan, ada orang baik yang bersedia untuk membantu pembangunan rumahnya.  

Dalam kesusahannya, Ladig tetap berupaya untuk hidup mandiri. Dia pantang meminta-minta. Ladig rajin menekuni pekerjaannya yaitu mengumpulkan barang bekas seperti botol air mineral bekas untuk dijual kepada pengepul rongsokan. (*)

Print Friendly, PDF & Email