Pemkab Sukabumi Canangkan Target Zero Stunting

oleh -
Wakil Bupati Sukabumi H. Iyos Somantri (belakang) bersama Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi Harun Alrasyid ketika mengikuti pemaparan penanganan stunting bersama Pemprov Jabar.

Wartawan Joko Samudro

Pemkab Sukabumi mencanangkan target zero stunting atau nihil kasus kurang gizi akut. Dengan pencanangan tersebut, Kabupaten Sukabumi bakal bebas kasus stunting dalam waktu beberapa tahun ke depan, khususnya di kalangan balita. Saat ini, prevalensi stunting di Kabupaten Sukabumi mencapai 6,91 persen. 

banner 970x90

Hal itu dikatakan Wakil Bupati (Wabup) Sukabumi H. Iyos Somantri dalam laporan pada kegiatan pemaparan kasus stunting di Jawa Barat secara virtual, Selasa (24/8/2021). Kegiatan dipandu oleh Sekda Jabar Setiawan Wangsaatmaja. Peserta para kepala daerah dan kepala dinas se-Jabar.

Pemaparan tersebut berkaitan dengan penilaian kinerja kabupaten/kota dalam pelaksanaan delapan aksi konvergensi penurunan stunting terintegrasi di Provinsi Jawa Barat tahun 2021.

“Berdasarkan data Riskesdas di 2018, prevalensi stunting Kabupaten Sukabumi berada di angka 41,35 persen. Jumlah tersebut terus menurun hingga pada akhir tahun 2020 sampai di angka  6,91 persen,” kata wabup. 

Kasus stunting, ujar dia, terus menurun dari waktu ke waktu. Dengan demikian target zero stunting bukan hal yang mustahil untuk terwujud. Wabup yakin dengan keterlibatan semua elemen dan sektor di Pemkab Sukabumi, target zero stunting dapat segera tercapai.

“Kami menargetkan zero stunting tercapai pada 2023. Makanya, stunting menjadi prioritas penanganan aparat di Kabupaten Sukabumi,” kata Iyos.

Kabupaten Sukabumi memiliki inovasi dalam penanggulangan stunting melalui pembagian beras nutrizinc yang merupakan hasil kerja sama dengan Balitbang Kementerian Pertanian. 

“Beras ini kami berikan kepada anak-anak stunting. Hasilnya, sudah ada pengidap stunting yang mengalami perbaikan gizi dari buruk ke baik dengan memakan beras nutrizinc ini,” ucapnya.

Beras yang awalnya ditanam di lahan seluas 50 hektare ini terus dikembangkan. Apalagi dengan adanya hasil yang baik dari beras tersebut dalam  percepatan penurunan  stunting.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi H. Harun Alrasyid menambahkan, masih banyak inovasi yang dilakukan untuk menurunkan angka stunting. Inovasi-inovasi dimaksud antara lain gerakan serentak menamam bayam, kuobati stunting dengan surveilans dan sekolah gizi keluarga, suami-suami pendukung ASI, hingga forum kader pembangunan manusia.

“Ada juga rumah tema dalam rangka pengembangan anak usia dini,” kata Harun.

Percepatan penanganan stunting tidak hanya dilakukan lewat multi sektoral saja juga melibatkan multi stakeholder. Dinkes melibatkan dunia usaha, komunitas, akademisi, hingga media. Selain itu pemda membuat Perda dan SK Bupati tentang upaya penanganan dan pencegahan stunting di Kabupaten Sukabumi. (*)

Print Friendly, PDF & Email