BNN: Wujudkan Sukabumi Bersih Narkoba Perlu Peran Serta Swasta dan Masyarakat

oleh -
Para narasumber pada wokshop peningkatan kapasitas insan pers dalam mendukung program kota/kabupaten tanggap ancaman bahaya narkoba di Kabupaten Sukabumi. Kedua dari kiri adalah Kepala BNN Kabupaten Sukabumi, Dr. (Cand) M. Retno Daru Dewi, S.Psi., M.Si.

Wartawan Nanang Setiana

Kepala BNN Kabupaten  Sukabumi, Dr. (Cand) M. Retno Daru Dewi, S.Psi., M.Si. mengajak seluruh kalangan atau stakeholder ikut terlibat dalam mewujudkan program Sukabumi Bersinar (Bersih Narkoba). BNN Kabupaten  telah mencanangkan program kabupaten tanggap ancaman narkoba dan Desa Bersinar menuju Sukabumi Bersinar.

banner 970x90

Imbauan Retno tersebut disampaikan pada pembukaan Workshop Peningkatan Insan Pers untuk Mendukung Program Kota/Kabupaten  Tanggap Ancaman Bahaya bertempat di Hotel Pangrango, Senin (10/5/2021). Untuk itu, ujar dia, perlu sinergitas semua stakeholder termasuk swasta dan masyarakat dalam mensukseskan program tersebut.

“Kami amat bersyukur ketika saya datang ke Sukabumi sudah ada perda tentang penanggulangan narkoba,” kata Retno.

Perda yang dimaksud Retno adalah Perda Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pencegahan dan Pemberantasan  Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika. Sampai sekarang, perda tersebut merupakan satu-satunya di Provinsi Jawa Barat.

Dengan adanya Perda 4 Tahun 2020, BNN Kabupaten  dapat lebih mudah melaksanakan Inpres Nomor 2 Tahun 2020 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelapa Narkoba (P2GN) di Kabupaten Sukabumi dan mewujudkan program kota/kabupaten tanggap ancaman bahaya narkoba.

“Pada tahun 2016 Bapak Presiden menyatakan Indonesia darurat narkoba. Untuk itu kami mengajak segenap semua kalangan termasuk swasta dan masyarakat untuk bersama-sama mewujudkan Sukabumi Bersinar,” ujat Retno.

Pada workshop itu hadir sebagai narasumber Kabid Informasi dan Komunikasi Publik Diskominfo Kabupaten  Sukabumi Herdy Somantri; Kepala Seksi Pencegahan BNN Kabupaten Sukabumi, Reni Marliani Iska, M.Si.; Kepala Rehabilitasi BNN Kabupaten Sukabumi, Bambang Sutedjo, S.K.M.; dan Ketua Bengkel Jurnalistik PWI Kabupaten Sukabumi, Wawan AS. 

Herdy megnawali ceramahnya dengan pernyataan, media massa merupakan ujung tombak bagi penyampaian informasi supaya masyarakat menjadi tahu, paham, dan mengerti serta sadar dan tidak menjalankan penyalahugunaan dan peredaran gelap narkoba.

Untuk mendukung pelaksanaan program P4GN termasuk dalam pencegahan, kata dia, media bertugas merekonstruksi pola pemikiran, mengubah pola pemikiran dan kebiasaan di masyarakat, serta memicu peran serta masyarakat agar kebih partisipatif dalam program tersebut.

“BNN dan pemerintah harus menerapkan strategi pentahelix yang unsur-unsurnya terdiri dari ABCGM atau akademisi, dunia usaha, komunitas masyarakat, pemerintah, dan media,” tutur dia. 

Di Kabupaten  Sukabumi terdapat 381 desa dan 5 kelurahan di 47 kecamatan, tidak mungkin didatangi satu per satu oleh pemerintah dan BNN untuk mensosialisasikan P4GN. Tidak akan selesai 1 tahun.  Jadi perlu keterlibatan media untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat.  

Sementara Bambang mengatakan, saat ini BNN Kabupaten  sedang terus mengoptimalkan layanan masyarakat dalam program rehabilitasi. Salah satunya dengan membuka akses seluas-luasnya bagi korban narkoba kepada tempat-tempat rehabilitasi.

“Hal itu berlaku untuk rehabilitasi medis, rehabilitasi sosial, dan pasca rehabilitasi. Banyak rumah sakit yang dapat diakses untuk rehabilitasi korban narkoba, salah satunya RS Bhayangkara Setukpa Lemdiklat Polri,” jelas dia.

Sementara Wawan AS dalam paparannya menyampaikan tujuan dari penulisan berita narkoba antara lain untuk  menyadarkan pengguna agar bisa membebaskan diri dari ketergantungan pada narkoba; membuat efek penggentar atau efek jera kepada para pengedar narkoba, dan meningkatkan kewaspadaan terhadap peredaran gelap narkoba di tengah peradaban masyarakat.

Untuk mencapai tujuan tersebut, dia mengusulkan penulisan berita narkoba dengan model-model tulisan tertentu yaitu  untuk berita pencegahan menggunakan kalimat puitis dengan paragraf persuasif. Berita pemberantasan atau penindakan harus sadis dan tegas dengan paragraf narasi dan paragraf argumentasi untuk membangkitkan efek jera bagi pelaku kejahatan narkoba.

Adapun berita rehabilitasi harus berbentuk prosa yang indah dengan pendekatan eksposisi dan deskripsi untuk menggambarkan perjuangan seorang penyintas narkoba untuk membebaskan diri dari ketergantungan.  (*)

Print Friendly, PDF & Email