Kabupaten Sukabumi Ikutkan Petani dalam Proyek Closed Loops Cabai

oleh -
Bupati Sukabumi, H. Marwan Hamami menandatangani nota kesepahaman untuk closed loops yang digelar secara virtual dari Jakarta.

Wartawan Joko Samudro Suroboyo

Pemkab Sukabumimenyertakan petani hortikulutra pada proyek closed loops cabai yang diluncurkan oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomain (Kemenko Perekonomian). Dengan proyek ini, para petani cabai akan mendapatkan jaminan dalam proses penanaman dan pemasaran hasil pertanian.

banner 970x90

Penandatanganan nota kesepahaman  project closed loops cabai diselenggarakan secara virtual dari Jakarta yang diikuti Bupati Sukabumi, H. Marwan Hamami bersama jajaran di Pendopo Sukabumi, Senin (8/2/2021).  

Beberapa instansi yang terlibat dalam penandatanganan nota kesepahaman itu antara lain Kemenko Bidang Perekonomian, Kementerian Pertanian, KADIN, pemda, dan kelompok tani.

“Kami merasa yakin dan optimis project closed loops cabai dapat mensejahterakan para petani hortikultura di Kabupaten Sukabumi. Dengan sistem ini, para petani dapat memperoleh kemudahan dalam pengadaan bibit, pupuk, dan pemasaran produk,” kata bupati.

Proyek closed loops cabai, ujar dia, dapat memberikan semangat, inovasi, serta kreativitas baru dalam upaya meningkatkan hasil budi daya pertanian. 

“Program closed loops ini merupakan jembatan bagi petani dengan pasar. Sistem tersebut bisa menjamin suplai lebih maksimal dan produk serta harga lebih stabil. Sebab closed loops ini menyinergikan rantai nilai pertanian mulai hulu hingga hilir untuk menciptakan efisiensi yang berdaya saing dan berkeadilan,” tambahnya.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi Sudrajat mengatakan, lahan yang digunakan untuk pilot project closed loops cabai ini seluas 1,5 hektare di dua desa yaitu Desa Langensari dan Desa Selaawi Kecamatan Sukaraja dengan jumlah petani sementara 6 orang.

“Nanti akan dikembangkan ke wilayah lain dengan jumlah petani yang terus bertambah,” kata Sudrajat.

Program closed loops ini, jelas dia, secara garis besar merupakan pola dan sistem pertanian yang maju. Prasarana dan sarana untuk menunjang proses penanaman hingga pemasaran telah tersedia. Petani akan mendapat jaminan pembiayaan dan pasar untuk menjual hasil pertaniannya. Sehingga petani tinggal fokus mengembangkan tanaman cabai. 

Dalam pidatonya, Asisten Deputi Pengembangan Agribisnis Hortikultura Kemenko Bidang  Perekonomian RI, Yuli Sri  Wilanti mengatakan, nota kesepahaman untuk membentuk kesepakatan dalam proses budi daya cabai seperti penyediaan bibit, pupuk, dan pendampingan, 

Sri Wilanti juga menegaskan bahwa kemitraan closed loops ini bisa berjalan dari hulu sampai hilir, dari produksi hingga pemasaran. (*)

Print Friendly, PDF & Email