Stok Terbatas, Pupuk Bersubsidi di Desa Cipeundeuy Semakin Langka

oleh -
Areal persawahan di Desa Cipeundeuy, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi yang terancam gagal panen karena kelangkaan pupuk.

Wartawan Dicky Sopyan

Pupuk bersubsidi di Desa Cipeundeuy, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi semakin langka. Akibatnya para petani kesulitan mendapat pupuk tersebut, khusunya jenis ponska. Padahal mereka telah mempunyai segala persyaratan untuk mendapatkan pupuk bersubsidi termasuk kepemilikan kartu tani.

banner 970x90

Berbagai sumber di kalangan petani menyebutkan, kesulitan pupuk terjadi sejak awal musim tanam tahun ini. Terhitung sekitar dua bulan lalu, mereka tidak lagi mendapatkan pasokan pupuk dalam jumlah normal sesuai dengan kebutuhan di sawah masing-masing.

“Sekarang jatah pupuk jenis ponska sebanyak 4 sak untuk lahan satu hektare. Sementara kebutuhannya 6 sak. Itu juga pupuknya jarang ada di kios,” kata Abud, salah seorang petani di Desa Cipeundeuy kepada wartawan, Senin (14/12/2020).

Akibat kelangkaan pupuk, khususnya jenis ponska, para petani terpaksa membeli pupuk tersebut ke tempat lain untuk menyelamatkan tanaman padi di sawah milik mereka.

Berdasarkan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK), Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Sukabumi menetapkan, jatah pupuk per hektare sebanyak 2 kuintal urea dan 2 kuintal ponska atau 4 sak untuk tiap-tiap jenis pupuk. Rata-rata banyak pemilik untuk lahan satu hektare itu 6 sampai dengan 7 orang.

“Jadi kalau pupuk dibagi dalam bentuk sak, tidak semua petani kebagian satu sak karena hanya cukup untuk 4 orang. Jatah pupuk tidak mencukupi. Jadinya kami kekurangan pupuk,” ujar dia.

Pengiriman pupuk dari kios dilakukan secara bergilir, lanjutnya. Padahal pupuk dibutuhkan sekaligus. Pada masa tanam, semua petani membutuhkan pupuk secara serentak.  

“Kalau terlambat menerima pupuk, sawah kami terancam gagal panen,” kata Abud.

Petani yang lain bernama Joni menyebutkan, adanya ketentuan bahwa petani harus mempunyai kartu tani untuk mendapatkan pupuk bersubsidi makin mempersulit anggotanya di kelompok tani yang dipimpinnya. Sebab sebanyak 40 persen anggotanya belum memiliki kartu tani.

“Petani yang tidak terdaftar dan tidak memiliki kartu tani tidak bisa membeli pupuk bersubsidi,” tuturnya. (*)

Print Friendly, PDF & Email