Lembaga Usaha Pangan Masyarakat Sagaranten Makin Berkibar

oleh -
Tempat pengolahan padi yang dikelola oleh LUPM Sagaranten mampu menghasilkan beras ratusan ton dalam satu tahun.

Wartawan Suryana

Keberadaan Lembaga Usaha Pangan Masyarakat (LUPM) Sagaranten, Kabupaten Sukabumi makin berkibar. Lembaga usaha ini bisa menyediakan beras sebanyak 200 ton tiap musim yang dikirimkan ke Sukabumi, Bogor, dan Jakarta melalui koordinasi dan jaringan TTIC (Toko Tani Indonesia Centre).

banner 970x90

“Kami mempunyai 25 anggota petani yang juga pengepul padi di wilayah Sagaranten. Setiap musim panen kami mengumpulkan padi dari para petani untuk dikirimkan ke luar Sagaranten melalui TTIC,” kata pengelola LUPM Sagaranten, H. Nursidin (63) kepada wartawan, Jumat (11/12/2020).

Dalam kurun waktu satu tahun, petani yang berada di dalam jaringan LUPM Sagaranten bisa panen dua atau tiga kali. Di Kabupaten Sukabumi hanya ada dua LUPM yakni di Sagaranten dan Ciemas. Dalam operasionalnya, LUPM yang didirikan tahun 2019 itu dibina oleh Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Sukabumi.

“Kami menerima gabah kering maupun basah. Untuk penanganan gabah basah, kami memiliki alat oven pengeringan,” ujar Nursidin.

Proses pengeringan padi tidak terpengaruh oleh cuaca. Walaupun musim hujan, padi dapat diproses dengan baik sampai benar-benar kering dan siap untuk digiling. LUPM Sagaranten memiliki fasilitas pengeringan padi berukuran 13 x 8 meterpersegi. Pembangunan fasilitas ini didanai Distan Kabupaten Sukabumi dengan anggaran sebesar Rp240 juta.

“Lama pengeringan sekitar 8 jam untuk padi sebanyak satu hingga 6 ton. Kalau dijemur dengan panas matahari, pengeringan gabah bisa memakan waktu berhari-hari,” jelas dia.

Selain itu LUPM menjalankan usaha jasa penggilingan padi yang dapat memberikan penghasilan bersih sebesar Rp2 juta perbulan. Dari penggilingan ini, LUPM Sagaranten memproduksi beras yang diberi merek Sukabumiku yang dikemas di dalam karung ukuran 5 kg dan 10 kg.

“Saat ini kami menghadapi kendala permodalan guna menambah kapasitas produksi sebanyak 50 ton untuk memenuhi permintaan dari Bandung. Selama ini kami tidak menggunakan dana kredit, tapi dana yang diputar,” jelasnya. 

Dia sudah menggeluti jual beli gabah sejak tahun 1981 dengan modal setengah ton padi dan terus berjalan hingga sekarang. Kegiatan usaha itu sebagai selingan dari kegiatan utamanya sebagai guru. Tahun 2013 dia pensiun dari guru dan berkonsentrasi untuk melanjutkan usahanya.  

Nursidin tinggal di Kampung Cikiray RT 06 RW 02 Desa/Kecamatan Sagaranten, Kabupaten Sukabumi. Dia memiliki dua anak pria dan perempuan yang menjadi TNI dan guru. (*)

Print Friendly, PDF & Email