Pemilik Sawah di Sagaranten Kesulitan Tenaga Kerja untuk Tandur

oleh -
Bentangan sawah milik Abah Syamsudin di Kampung Mekarjaya, Kedusunan Pasiripis, Desa/Kecamatan Sagaranten yang selalu kesulitan mendapatkan tenaga kerja perempuan untuk tandur.

Wartawan Suryana

Para pemilik sawah di Kecamatan Sagaranten, Kabupaten Sukabumi dan sekitarnya kesulitan mendapatkan tenaga kerja untuk tandur atau menanam padi. Penyebabnya, tenaga kerja potensial untuk pekerjaan tersebut yakni perempuan pergi  meninggalkan desa untuk mencari pekerjaan yang lebih besar penghasilannya.

“Bisanya pekerjaan tandur selesai dalam waktu satu hari, sekarang bisa berhari-hari atau bahkan satu minggu karena sulit mendapatkan tenaganya,” kata Abah Syamsudin (72) asal Kampung Mekarjaya RT 10 RW 04 Kedusunan Pasiripis, Desa/Kecamatan Sagaranten ketika ditemui di sawah miliknya, Ahad (29/11/2020). 

Dulu, beberapa tahun yang lalu, ujar Syamsudin, banyak perempuan yang terbiasa bekerja di sawah untuk membantu pekerjaan tandur. Syamsudin bisa mempekerjakan orang tandur hingga puluhan orang sehingga seluruh tahapan penanaman padi selesai dalam waktu satu hari.  

“Sekarang paling banyak tiga orang yang bisa membantu tandur di sawah saya. Jadinya pekerjaan tandur lama sekali,” tutur dia.

Sawah yang dimiliki Syamsudin luasnya mencapai sekitar 1 haktare. Dalam sekali panen, dia bisa mendapatkan gabah sampai bilangan tonan. Lahan pertanian seluas itu membutuhkan tenaga kerja untuk tandur sampai belasan hingga puluhan orang. Proses tandur itu harus tuntas dalam satu hari agar pertumbuhan tanaman padi merata.

Proses tandur terdiri dari tiga tahap yaitu babut atau mencabuti benih padi, mengakut benih, dan menanam padi pada lahan yang telah diolah. Untuk babut dan mengangkut benih biasanya dikerjakan laki-laki.

“Kalau tenaga kerja laki-laki tidak terlalu sulit. Begitu juga untuk mengolah lahan, bisa cepat karena menggunakan traktor tangan. Tapi untuk tandur, itu harus perempuan,” ujar Syamsudin.

Kondisi saat ini, tenaga kerja produktif dari kalangan perempuan lebih memilih pekerjaan di kota-kota besar. Dari angkatan kerja lulusan SMA dan perguruan tinggi lebih suka bekerja di perusahaan atau pekerja pabrik besar, sementara kelompok perempuan yang lebih dewasa memilih bekerja sebagai TKW di mancanegara.

“Setiap kali menghadapi musim tandur, saya kesulitan mendapatkan tenaga kerja dari kalangan ibu-ibu,” jelas Syamsudin. (*)  

Print Friendly, PDF & Email