Keluar Rumah di Waktu Maghrib, Bungaok akan Beraksi

oleh -
Dua anak dari Desa Cipeundeuy, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi ini berada di luar rumah ketika cahaya senja muncul di langir barat. Mereka selamat, bebas dari gangguan hantu.

Wartawan Dicky Sopyan

Sebagian warga Desa Cipeundeuy, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi masih percaya pada aturan karuhun terkait larangan tertentu yang mengandung sanksi pamali. Salah satunya larangan keluar rumah di waktu Maghrib atau senja kala, orang Sunda menyebutnya sandékala.   

“Dari dulu, waktu Aki masih kecil dan zaman karuhun, larangan keluar rumah di waktu Maghrib sudah berlaku masyarakat. Kata orang-orang tua, pada saat seperti itu, segala jenis makhluk halus sedang berkeliaran untuk mencari korban,” kata Aki Tuni (75) ketika ditemui di rumahnya di Kampung Cicaru RT 08 RW 03 Desa Cipeundeuy, Kecamatan Surade, Sabtu (21/11/2020).

Dulu, dan masih berlaku sampai sekarang di kalangan terbatas, ujar Aki Tuni, para orang tua mengancam anak-anaknya yang suka keluyuran di waktu Maghrib dengan hantu dan makhluk gaib. Dikatakan para orang tua, sebagian besar jenis hantu keluar dari sarangnya untuk mencari orang-orang yang berada di luar rumah saat senja tiba.

Para hantu tersebut bergentayangan di antara kekuatan fisik dan metafisik. Cerita orang tua menyebutkan, pada waktu Maghrib itu bentuk jenis hantu seperti bungaok, pocong, kelong wewe, bobontot, kiciwis, jurig jarian, dan rorongkong berkeliaran untuk menangkapi atau menganggu anak-anak yang berada di tempat terbuka pada senja hari.

Aki Tuni (depan) yang empunya cerita larangan keluar rumah di waktu Maghrib.   

Hantu-hantu itu akan membawa anak-anak yang hidup di alam natural ke alam supranatural. Makhluk gaib tersebut akan menjadikan anak-anak sebagai sandera atau tawanan dan tersembunyi dari pandangan mata. Untuk dapat mengambil anak-anaknya yang diculik hantu, para orang tua harus menggelar prosesi terentu dengan bantuan ‘orang pintar’. 

“Kata orang-orang tua seperti itu. Aki sendiri belum pernah melihat hantu-hantu tersebut dan tidak mau bertatap muka dengan mereka. Lagi pula Aki tidak pernah keluyuran di waktu Maghrib,” tuturnya.

Konon menurut mitos, tidak semua hantu tampil di waktu senja. Hantu-hantu seperti kunti lanak dan jurig rata biasanya muncul selepas Isya. Jurig rata, disebut demikian karena wajahnya tidak memiliki hidung, mata, dan mulut. Hantu jenis ini memiliki selera humor tinggi ketika menjalankan aksinya dalam mengganggu manusia.

“Anak-anak ditakut-takuti hal yang menyeramkan agar mereka tidak keluar rumah atau keluyuran saat Maghrib,” jelas dia. 

Sebenarnya, lanjut Aki Tuni, larangan dan pamali itu tidak semata-mata urusan mitos dan takhayul. Dilihat dari sisi akal sehat ada benarnya juga. Waktu Maghrib, kata dia, harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk shalat karena jangkanya sangat pendek menuju shalat Isya.

Berdosa bagi umat Islam yang tidak menjalankan shalat Maghrib. Karena itu orang-orang tua memakai senjata sandékala untuk mengingatkan anak-anak agar bergegas ke masjid atau menggelar sajadah di rumah untuk mendirikan shalat Maghrib.

“Memang di waktu Maghrib itu, kita tidak boleh keluyuran, tidur, atau duduk di luar rumah. Itu waktunya shalat, saatnya kita berdoa dan memohon perlindungan,” ucap Aki Tuni. 

Maghrib merupakan saat terjadinya pergantian dari siang ke malam hari. Menurut riwayat, ketika itulah Iblis dengan tanduknya bertakhta di atas Matahari yang akan masuk ke masuk ke peraduannya di ufuk barat. (*)

Print Friendly, PDF & Email