Padepokan Mundingwangi Surade Operasikan Sekolah Warga

oleh -
Suasana pembelajaran di Sekolah Warga yang diselenggarakan Padepokan Mundingwangi Surade, Kabupaten Sukabumi.
Para peserta didik dan tutor Sekolah Warga Padepokan Mundingwangi tetap semangat mengikuti pembelajaran tatap muka.

Wartawan Dicky Sopyan

Lembaga pendidikan formal mengalami stagnasi dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) secara tatap muka selama wabah Covid-19. Anak-anak harus meninggalkan bangku sekolah dan mengikuti pembelajaran sistem daring dengan fasilitasi jaringan internet. Walaupun sesekali ada pertemuan tatap muka, penyampaian materi pelajaran tidak seefektif  sistem  KBM di sekolah.

banner 970x90

Tidak jarang muncul keluhan dari anak-anak karena merasa bosan belajar terus di rumah tanpa bimbingan langsung dari guru. Keluhan seperti inilah yang ditangkap oleh sebagian aktivis berhati mulia sebagai ladang untuk pengabdian dalam rangka mencerdasakan anak bangsa.

Seperti dilakukan para penggiat sosial di Padepokan Mundingwangi yang pusatnya di Kampung Sukamaja,  Desa Pasiripis, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Padepokan ini membuka Sekolah Warga untuk meuanmpung anak-anak PAUD dan SD yang ingin balajar secara tatap muka.  

Dari waktu ke waktu jumlah peserta didik di Sekolah Warga Padepokan Mundingwangi terus bertambah. Puluhan anak PAUD dan SD menjadi bagian dari sekolah tersebut. Mereka mendapatkan pelajaran dan bimbingan dari dua tenaga tutor yang mengabdi di Padepokan Mundingwangi.

“Kami di Sekolah Warga membimbing anak-anak PAUD dan SD atas permintaan para orang tua yang menginginkan anak-anaknya mendapatkan pembelajaran langsung seperti di sekolah,” kata Lia, salah satu tutor Sekolah Warga kepada wartawan, Rabu (11/11/2020).

Para orang tua, ujar dia, tidak memiliki kemampuan finansial untuk mengikutsertakan anak-anaknya pada lembaga pendidikan alternatif seperti les privat atau bimbingan belajar. Mereka juga terkendala waktu dan pengetahuan ketika akan membimbing anak-anaknya.

“Kami menjawab keterbatasan para orang tua itu dengan mendirikan Sekolah Warga. Kami siap membimbing dan mengajar anak-anak yang ingin memperoleh pembelajaran secara langsung,” tutur Lia.

Kegiatan belajar di Sekolah Warga sudah berjalan selama dua bulan. Jumlah peserta didiknya 30 anak PAUD dan SD. Pertemuan untuk pembelajaran dilaksanakan 4 kali dalam satu minggu. Waktu belajar dari pukul 15:30 hingga pukul 17:00 WIB.

Selama pembelajaran, Padepokan Mundingwangi menerapkan aturan protokol yang ketat. Para peserta didik harus memakai masker dan menjaga jarak ketika duduk di tempat belajar.

Kasepuhan Padepokan Mundingwangi, Aa Soleh.

Sementara itu Kasepuhan Padepokan Mundingwangi, Aa Soleh menjelaskan, Sekolah Warga merupakan kepedulian para pengasuh dan pengurus padepokan tersebut terhadap pendidikan anak-anak. Padepokan Mundingwangi siap menerima dengan tangan terbuka anak-anak yang ingin mengikuti pelajaran secara tatap muka.

“Ya, ini salah satu bentuk kepedulian padepokan kami terhadap dunia pendidikan. Kami siapkan dua tenaga pendidik untuk memenuhi permintaan para orang tua. Silakan warga yang akan mengikutkan anak-anaknya ke Sekolah Warga, datang saja. Semuanya gratis, tidak dipungut biaya,” kata Aa Soleh. (*)

Print Friendly, PDF & Email