Pjs. Bupati Sukabumi Bahas Ratusan Santri Terkonfirmasi Positif Covid-19

oleh -
Pjs. Bupati Sukabumi Raden Gani Muhamad saat memimpin rapat koordinasi pembahasan penyebaran Covid-19 di salah satu pesantren di Cibadak yang menginfeksi 212 santri.

Wartawan Joko Samudro (PSN)

Pemkab Sukabumi, Jawa Barat menggelar rapat koordinasi untuk membahas penyebaran dan penanggulangan wabah Covid-19 di salah satu pondok pesantren di Kecamatan Cibadak. Rapat yang digelar di Pendopo Sukabumi pada Sabtu (7/11/2020) itu dipimpin oleh Pjs. Bupati Sukabumi, Raden Gani Muhamad.

banner 970x90

Fokus pembahasan bermuara pada hasil swab test atau tes usap yang menyatakan 212 santri di pesantren tersebut terkonfirmasi positif Covid-19. Jumlah ini masih sebagian karena masih ada 85 hasil tes usap yang belum diumumkan. Ada kemungkinan, jumlah santri yang terinfeksi Virus Corona bertambah.

Sejak kluster Covid-19 pesantren di Cibadak itu muncul, Pemkab Sukabumi dan Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Sukabumi langsung mengambil berbagai langkah. Salah satunya menggelar tes usap kepada para santri dan pengasuh pondok pesantren.

“Kita perlu bergerak cepat untuk mengambil langkah dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di pesantren tersebut,” kata Gani dalam pembukaan rakor.

Penyelenggaraan rakor, ujar dia, merupakan salah satu bentuk keseriusan pemda dalam menanggulangi penyebaran Covid-19 di pesantren itu. Jajarannya, kata dia, telah melakukan berbagai upaya untuk memutuskan mata rantai penyebaran Covid-19 di lembaga pendidikan keagamaan tersebut.

“Langkah-langkah antisipatif yang dilakukan pemda antara lain menutup aktivitas lembaga pendidikan yang bersangkutan. Selain itu, kami mendirikan posko yang melibatkan semua unsur pemerintah dan masyarakat,” tutur Gani.

Posko didirikan di sekitar lokasi pesantren. Unsur yang dilibatkan di dalam posko antara lain tenaga kesehatan, Satol PP, TNI, dan Polri, termasuk Satgas Penanganan Covid-19 tingkat kecamatan dan kapbupaten. Salah satu tugas posko adalah memantau langkah pemulihan dan pencegahan penyebaran Covid-19. 

Praktis pesantren ditutup dan para santri menjalani masa krantina selama 14 hari. Mereka harus tetap berada di lingkungan pesantren. Para santri yang hasil tesnya negatif akan menjalani tes ulang dan dikarantina. 

“Kami khawatir mereka akan menularkan virus ke keluarganya. Makanya mereka yang negatif juga dites ulang dan dikarantina di sekolah,” jelas Pjs. Bupati.

Dalam waktu dekat, Pemkab Sukabumi akan menyelenggarakan rapat khusus dengan Kementerian Agama untuk membahas pencegahan penyebaran Covid-19 di pesantren lainnya. (*)

Print Friendly, PDF & Email