Petani Kaki Gunung Kamunding Rutin Berperang dengan Kera

oleh -
Pohon pisang di ladang yang terletak di kaki Gunung Kamunding rusak parah dijarah kelompok kera liar yang bersarang di sekitar hutan.

Wartawan Suryana

Selama lima tahun berturut-turut tanpa putus, para petani yang mengolah kebun di kaki Gunung Kamunding Sagaranten, Kabupaten Sukabumi harus berperang melawan kera. Pemilik lahan pertanian dibuat pusing oleh tingkah laku hewan prima yang berkerabat dengan dengan monyet itu karena kerap merusak tanaman palawija dan buah-buahan.

banner 970x90

Secara rutin dua bulan sekali gerombolan kera menyerang ladang dan kebun. Binatang berekor pendek ini, tidak seperti monyet yang berekor panjang, meranjah berbagai jenis tanaman seperti ubi jalar, singkong, mentimun, talas, pisang, kaca-kacangan, dan buah-buahan. Kelompok primata ini kadang-kadang menyerang tanaman padi yang mulai berbuah.  

“Biasanya kera-kera itu datang bergerombol ke kebun dan ladang pukul dua siang. Mereka beraksi sampai petang mendekati Maghrib. Kalau kelompok kera itu datang, habis kebun saya,” kata H.Entah (86) warga Kampung Cibodas RT 03 RW 10, Desa/Kecamatan Sagaranten ketika sedang bekerja di sawahnya di kaki Gunung Kamunding, Sabtu (31/10/2020) siang.

Karena lebih pintar dari monyet, kera tidak memakan tanaman yang pedas atau berbau menyengat seperti cabai dan jahe, juga kencur. Selama ini para pemilik lahan pertanian di kaki Gunung Kamunding terus berupaya untuk mengarahkan kelompok kera tidak mendekat ke kebun, ladang, atau sawah. Sayangnya upaya warga itu belum membuahkan hasil. Pasukan kera masih tetap menganggu tanaman milik warga.

“Kami sudah lima tahun melawan kera-kera perusak tanaman pangan,” ujar Entah.

Dari berbagai sumber di seputar kaki Gunung Kamunding diperoleh keterangan, gerombolan kera itu memiliki pasukan sekitar 50 ekor dari berbagai umur dan ukuran. Dari kelompok itu diketahui tiga ekor di antaranya sebagai penggerak atau biasa disebut mandah. Gerakan kelompok kera itu berada di bawah pengaruh ketiga ekor mandah tersebut.  

Wilayah desa yang diserbu kera itu tidak hanya wilayah Desa Sagaranten, desa-desa lain yang terletak di kaki Gunung Kamunding juga tidak luput dari serangan kelompok kera. Desa-desa dimaksud antara lain Margaluyu, Cibaregbeg, dan Hegarmanah yang semuanya terletak di wilayah Kecamatan Sagaranten.

“Kera-kera nakal itu bersarang di sekitar hutan. Mereka sering terlihat bergelantungan sambil berteriak-teriak di pepohonan,” kata Entah.

Berbagai upaya yang dilakukan petani untuk menghalau gerombolan kera dari lahan pertanian. Beberapa petani memasang jebakan untuk membuat jera grup kera itu. Sebagian datang beramai-ramai datang ke kebun sambil membawa tongkat dan kentongan untuk mengusir kera. Anehnya setiap kali rombongan pemburu datang, kera-kera tersebut lenyap bagai ditelan bumi.

“Pernah saya menyimpan makanan kesukaan kera yang dicampuri racun. Tapi kera-kera itu tidak mau memakannya. Kata orang-orang, tiga kera besar-besar yang melarang kera-kera lainnya menyentuh makanan beracun. Ada-ada saja tingkah kera itu,” kata Dadang (60), salah satu pegawai Entah yang tinggal di Kampung Mekarjaya RT 10 RW 11 Desa Sagaranten.

Solusi lainnya sedang dirintis oleh Sujatma (57). Dia menanam aneka jenis jambu batu di sekitar kebun palawija. Tujuannya untuk mengalihkan perhatian kera ke pohon jambu  dari palawija. Karena kera lebih menyukai jambu dibandingkan singkong atau talas.

“Mudah-mudahan kalau jambu ini sudah berbuah dapat menarik perhatian kera. Tanaman palawija pun selamat,” jelas Sujatma. (*)  

Print Friendly, PDF & Email