Tuntaskan Pengabdian pada Negara, Setelah Pensiun Mengabdi untuk Rakyat

oleh -
Serda TNI (Purn) Mumuh di usia sepuhnya tidak pernah kehilangan semangat untuk melanjutkan pengabdian kepada masyarakat.

Wartawan Suryana

Prajurit TNI tidak pernah mengenal kata berhenti untuk mengabdi pada negara, bangsa, dan rakyat. Dari waktu ke waktu, mereka terus menjaga dan meningkatkan pengabdian untuk mempertahankan kedaulautan NKRI dan persatuan bangsa. Setelah purnawirawan pun, para prajurit TNI tetap mengabdi dan berkiprah di masyarakat.

banner 970x90

Seperti dilakoni Serda TNI (Purn) Mumuh (81), purnawirawan TNI yang menjalani masa sepuhnya di Kampung Puncakceuri, Dusun Cibungur, Desa Sagaranten, Kecamatan Sagaranten, Kabupaten Sukabumi. Sejak pensiun 33 tahun yang lalu, Serda Mumuh menghabiskan hari-harinya dengan mengabdi kepada masyarakat.

“Pensiun pada tahun 1987, saya pulang ke Sagaranten dan menetap di Kampung Puncakceuri bersama keluarga,” tutur Mumuh ketika ditemui di rumahnya, Minggu (4/10/2020).

Sebulan yang lalu dia kehilangan istri tercinta yang dipanggil Sang Khalik pada 4 September 2020. Mumuh sangat terpukul atas kehilangan orang yang dikasihinya dan telah menjadi pendamping hidup dalam suka dan duka itu.

Dia telah melaporkan kematian istri tercintanya itu kepada Taspen dan Asabri dengan melampirkan dokumen kartu anggota, Kartu Keluarga, surat keterangan kematian dari desa, dan surat lainnya. Namun sampai sekarang Mumuh belum mendapat kabar tentang santunan dan bantuan dari dua instansi tersebut.  

Ketika masih berdinas, Mumuh bergabung dengan Yonif 323/Buaya Putih yang bermarkas di Banjar, Kabupaten Ciamis (sekarang masuk Kota Banjar). Sebagai prajurit tempur, Mumuh pernah bertugas di berbagai daerah konflik.

Pada awal tahun 1960-an, dia ditugaskan ke Sulawesi Selatan untuk menghadapi kelompok Kahar Muzakar, tahun 1962 dikirim ke Papua yang kemudian menjadi Irian, lalu ke Kalimantan selama 18 bulan, ke Timor Timur pada 1975 ikut bergabung dalam Operasi Seroja selama satu tahun, dan ke Sumatera selama setahun juga.

“Selama saya berkeliling Indonesia, keluarga tetap di asrama bataliyon,” kata Mumuh.

Seumur hidupnya dia selalu teringat dengan pertempuran jarak dekat ketika berhadapan dengan pasukan Kaha Muzakar. Pasukan Yonif  323 berada pada jarak 10 meter dari pasukan lawan. Pertempuran berlangsung di sungai, banyak korban dari dari kedua pihak. Selama bertempur, tentara lebih banyak tenggelam sebagai bentuk pertahanan.

“Korban dari TNI 5 orang gugur. Dari pihak musuh pun banyak korban. Saya sedih mengenang peristiwa itu. Satu teman saya lupa mengangkat tangan ke atas permukaan air. Ditembaki musuh, tapi tidak meninggal. Saya tidak tahu di mana dia sekarang,” ungkap Mumuh sambil meneteskan air mata.

Setelah pensiun, dia tidak pernah berpisah dengan keluarganya. Pada tahun 1992, Mumuh terpilih menjadi Kepala Dusun Cibungur. Jabatan ini dijalaninya selama 25 tahun sampai dengan 2017. Sudah tiga tahun jabatan tersebut dipegang oleh generasi penerus yang lebih muda.   

Selama menjabat kepala dusun, Mumuh selalu mendapat perhatian dari pemerintah karena tepat melunasi PBB-P2. Pada masa Bupati H. Sukmawijaya, dia mendapat penghargaan dan piagam dari Pemkab Sukabumi atas prestasinya itu.

Kini di masa tuanya, dia didera berbagai penyakit karena umur. Mumuh sakit-sakitan, terutama oleh penyakit tua seperti sesak napas dan sulit buang air besar. Dia terus berobat dengan menggunakan fasilitas asuransi kesehatan.

Mumuh menginginkan terus mengabdi di masa senjanya. Dia ingin menggenapkan pengabdiannya kepada negara dan bangsa dengan memberikan manfaat bagi masyarakat. (*)  

Print Friendly, PDF & Email