Kota Sukabumi Penuhi Standar WHO dalam Swab Test Metode PCR

oleh -
Gubernur Jawa Barat, HM. Ridwan Kamil selaku Ketua GTPP Covid-19 Jawa Barat didampingi Kapolda Jabar Irjen Pol Rudy Sufahriadi dan Pangdam III Siliwangi Mayjen TNI Nugroho Budi Wiryanto serta jajaran Forkopimda Jabar lainnya seusai rapat GTPP Covid-19.

Kota Sukabumi terus memperbaiki diri dalam upaya dan metode penanggulangan Covid-19. Berkat kerja keras yang dilancarkan Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Kota Sukabumi, daerah ini berhasil melakukan swab test dengan metode PCR (Polymerase Chain Reaction) atau reaksi berantai polimerase melampaui standar WHO (Organisasi Kesehatan Dunia).

Pencapaian Kota Sukabumi dalam test PCR itu disampaikan Gubernur Jawa Barat, HM. Ridwan Kamil atau Kang Emil dalam konferensi pers setelah memimpin rapat mingguan GTPP Covid-19 Provinsi Jabar di Gedung Sate, Kota Bandung, Senin (28/9/2020).

banner 970x90

Jumlah penduduk yang mengikuti swab test PCR di Kota Sukabumi mencapai 3.962 orang atau 1,21 persen dari populasi penduduk. Sementara standar WHO, jumlah penduduk yang harus mengikuti tes tersebut ditetapkan minimal 1 persen dari populasi.  

Dengan demikian, penduduk yang telah mengikuti swab test PCR di Kota Sukabumi telah melampaui standar yang ditetapkan oleh WHO. Selain Kota Sukabumi terdapat 6 daerah di Jawa Barat yang melebihi standar WHO dalam hal jumlah warganya yang mengikuti swab test PCR.

Daerah-daerah dimaksud terdiri dari Kota Bandung yang telah melakukan tes PCR terhadap 64.243 spesimen atau 2,56 persen dari populasi, Kota Cimahi (11.956;  1,95 persen), Kota Banjar (2.194; 1,20 persen), Kota Bekasi (33.067; 1,10 persen), Kota Bogor (12.099; 1,09 persen), dan Kota Cirebon (3.399; 1,06 persen).

“Saya apresiasi tujuh daerah yang pengetesan PCR-nya sudah melewati batas 1 persen standar WHO,” kata gubernur.

Sementara secara keseluruhan berdasarkan data Pusat Informasi dan Koordinasi Covid-19 Jabar (Pikobar), tes PCR di Jabar per 28 September pukul 14:30 WIB mencapai 383.335 atau kurang lebih 0,75 persen dari populasi. Sampai sekarang, masih ada 20 kabupaten/kota lainnya yang belum memenuhi target 1 persen jumlah penduduk yang mengikuti tes PCR.

“Kami terus berupaya untuk mendorong daerah di Jabar agar bisa melakukan pengetesan metode PCR sesuai standar WHO. Daerah harus menambah kit PCR agar tes bisa berjalan optimal,” ujar Kang Emil selaku Ketua GTPP Covid-19 Jabar.

“Saat ini yang tadinya sudah bisa mencapai 50 ribu tes PCR per minggu jadi menurun karena jumlah persediaan reagen PCR terus berkurang. Minggu ini tersisa reagen 5 ribu lagi. Sesuai prosedur, kami minta ke pusat, akan turun 250 ribu reagen PCR,” tambah gubernur.

Dari jumlah tersebut, Kang Emil menjelaskan, 50 ribu akan dikelola oleh GTPP Covid-19 Jabar, sementara 200 ribu penggunaannya akan dikerjasamakan dengan swasta demi untuk meningkatkan kuantitas pengujian.

“Karena kapasitas total laboratorium kami sudah mentok. Untuk meningkatkan kapasitas testing kami harus melibatkan swasta,” tuturnya.

Kang Emil juga memaparkan, dari data periode 21-27 September 2020, terdapat lima daerah berstatus Zona Merah (Risiko Tinggi) di Jabar yakni Kota Depok, Kota Bogor, Kota Cirebon, Kabupaten Bekasi, dan Kabupaten Cirebon.

Meski begitu, recovery rate (angka pemulihan) Jabar per 27 September mencapai 61,40 persen atau meningkat 2,5 persen dibandingkan minggu sebelumnya. Sementara case fatality (angka kematian dari kasus) per 27 September sebesar 1,80 persen atau menurun 0,08 persen dari minggu sebelumnya.

Adapun angka Reproduksi Efektif (Rt) COVID-19 di Jabar per 26 September adalah 1,04 persen yang menandakan tingkat kecepatan penularan masih relatif terkendali. (*)

Sumber: https://jabarprov.go.id

Print Friendly, PDF & Email