Satu Kedusunan, Warga Pasiripis Sagaranten Krisis Air

oleh -
Emuh (14), remaja yang tinggal di Kampung Mekarjaya, Kedusunan Pasiripis, Desa/Kecamatan Sagaranten, Kabupaten Sukabumi harus mengambil air dari hutan bambu untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Wartawan Suryana

Warga di Kedusunan Pasiripis, Desa/Kecamatan Sagaranten, Kabupaten Sukabumi mengalami krisis air. Sumber air yang biasa digunakan warga semuanya sudah kering kerontang. Sumur dan selokan serta sebagian mata air di beberapa kampung di Kesusunan Parisipis tidak lagi mengeluarkan air.

banner 970x90

Beberapa warga memanfaatkan celah tanah di hutan bambu di Kampung Cibogo yang masih masuk Kedusunan Pasiripis. Mereka membuat kubangan di bawah hutan bambu itu untuk menampung air yang mengalir tetes demi tetes. Kemudian air dari dalam kubangan itu dialirkan melalui selang plastik untuk dimasukkan ke dalam jerigen atau ember.

Emuh (14), ABG dari Kampung Mekarjaya, Kadusunan Pasiripis tiap hari membantu orang tuanya untuk mengambil air di hutan bambu Kampung Cibogo. Jarak dari rumahnya ke tempat pengambilan air sekitar 1 kilometer. Dia bolak-balik ke hutan bambu menggunakan sepeda motor.

“Saya harus membantu orang tua mengambilkan air untuk minum, mandi, dan mencuci,” ujar Emuh ketika ditemui di sekitar tempat pengambilan air, Sabtu (19/9/2020). 

Sujatma (57), warga Kampung Cibogo menjelaskan, kekeringan yang melanda kampungnya sudah terjadi sejak bulan Juni lalu. Sesekali ada hujan, ujar dia, tapi kampungnya tetap kesulitan air bersih. Seperti para tetangganya, keluarga Sujatma juga harus mengangkut air bersih dari kubangan rumpun bambu ke rumahnya.

“Biasanya kalau musim kemarau, terutama bulan Agustus dan September kondisinya seperti ini. Alhamdulillah masih ada sumber air yang masih bisa dimanfaatkan oleh kami,” ujar dia.

Setiap hari, hutan bambu di Kampung Cibogo, Sagaranten didatangi warga yang akan mengambil air dari hutan bambu.   

Dulu, kira-kira 25 tahun yang lalu, sekitar tahun 1900-an pada masa Presiden Suharto, di Kampung Cibogo terdapat jaringan pipa paralon yang mengalirkan air dari Situ Sanim di Kampung Pasirmuncang. Panjang pipa paralon yang tersambung langsung ke Kampung Cibogo itu sekitar 3 kilometer.

“Namun tetap saja pada musim kemarau pipa itu tidak dapat mengalirkan air ke Kampung Cibogo karena persediaan air hanya cukup untuk warga Kampung Pasirmuncang,” kata Sujatma.

Lama-kelamaan pipa paralon itu rusak, pecah, dan berantakan. Sekarang jejaknya hampir hilang. Sampai saat ini, warga belum punya solusi untuk mengatasi kesulitan air di Kampung Cibogo dan sekitarnya pada musim kemarau. (*)  

Print Friendly, PDF & Email